Posts tagged ‘postmodern’

Realitas semu? Seru! Apalagi hyper-reality!

Secara umum wahyu kita kenal dalam dua bentuk, wahyu umum dan wahyu khusus. Di dalam buku yang berjudul Verbum Dei, Gary Crampton mengatakan bahwa wahyu umum menyatakan Allah adalah Sang Pencipta dan wahyu khusus menyatakan Allah adalah Sang Penebus. Menurutnya, kedua wahyu Allah harus dibaca di dalam kacamata Allah Tritunggal, karena melalui Tritunggal-lah seluruh kebenaran dipaparkan. Kedua wahyu tersebut juga adalah wahyu yang satu/utuh adanya karena berasal dari Tuhan yang satu, namun terimplikasi di dalam kedua fungsi yang berbeda. Selain keutuhannya, kedua wahyu tersebut kita pelajari dengan mengeksplorasi keluasannya. Demikianlah keluasan dan keutuhan kedua wahyu tersebut merupakan dua hal yang satu juga. Di dalam keluasan wahyu terdapat keutuhan wahyu. Di dalam keutuhan wahyu, kita juga bisa melihat keluasan wahyu di dalam aplikasi. Kecenderungan kita adalah menitikberatkan kepada wahyu yang satu dan membuang wahyu lainnya. Inilah salah satu bentuk penindasan manusia terhadap wahyu dalam mengerti wahyu Allah setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa.

Agar dapat dimengerti lebih jelas, mari kita melanjutkan pembahasan kita dengan memakai contoh yang sangat dekat dengan pemuda, yaitu game dan menonton (lagi-lagi game?? TENTU! Mari kita bermain game)!! Ketika kita bertemu dengan istilah game, maka akan timbul beberapa perselisihan pendapat. Atau ketika pertanyaan “Boleh ga sih kita maen game?” dilontarkan, sadarkah kita bahwa kita sedang memikirkan boleh atau tidak bolehnya sesuatu? Artinya kita sudah mempresuposisikan sesuatu itu memang ada, hanya saja apakah kita sebagai orang Kristen boleh atau tidak boleh ikut menikmatinya. Hal demikian sudah salah. Kita seharusnya bukan membicarakan boleh atau tidak bolehnya, melainkan memulainya dengan melihat prinsip besar di balik itu. Kecenderungan orang-orang, khususnya para pemuda, pada saat ini menjalankan hidupnya bukan dimulai dari menggumulkan dan belajar menghidupi prinsip, tetapi hanya sekadar menjalankan apa yang disenanginya saat itu. Demikian juga dalam masalah game dan menonton, kita sering tidak lagi bertanya apa yang dikatakan prinsip firman Tuhan tentang game dan menonton. Kita ikut bermain game dan menonton, baru setelah itu mencoba merasionalisasikan apa yang telah kita kerjakan. Inilah kesalahan yang terus terjadi dalam kehidupan kita yang seharusnya menjadi garam dan terang dunia. (lebih…)

Desember 18, 2011 at 3:56 pm Tinggalkan komentar

Sekilas Sejarah Wawasan Dunia

Wawasan dunia (worldview) yang dianut oleh sekelompok masyarakat tidak lepas dari roh zaman (bhs. Jerman: zeitgeist) yang menguasai saat itu, seperti hal yang disebutkan berikut. Pada zaman yang telah lampau, zaman modern, worldview bergerak dari Timur ke Barat, sehingga pemikiran Barat yang mendominasi saat itu di kalangan Timur. Sedangkan pada zaman postmodern saat ini, worldview itu berubah haluan dari Barat menuju ke Timur, sehingga kebudayaan Barat berbondong-bondong mengarah kepada kebudayaan Timur. Pergerakan pemikiran seperti ini telah diramalkan oleh seorang yang bernama Hegel yang mengatakan bahwa suatu masa hanya terdiri dari 2 fase yaiu thesis dan antithesis, dan ini akan terus . Zeitgeist itulah berdampak kepada pemikiran dalam skala besar yang mendorong seluruh aspek kehidupan.

Pemikiran manusia ini dituangkan dalam filsafat (baca: ilmu filsafat). Kali ini akan dibahas mengenai filsafat postmodern. Apa itu filsafat postmodern? Filsafat postmodern mendominasi kalangan akademis atau kaum intelektual. Dalam postmodern ditekankan salah satu pernyataannya yaitu segala sesuatu itu bersifat relatif. Pada pernyataan postmodern ini ada sesuatu yang janggal, bukankah dengan pernyataan tersebut justru menyerang balik dirinya sendiri. ‘Segala sesuatu itu berisfat relatif’ bukankah ini sudah memutlakkan pernyataan tersebut. Jikalau segala sesuatu bersifat relatif maka pernyataan ini pun tidak bisa dipegang kebenarannya. Pernyataan kedua yang dikumandangkan postmodern adalah segala sesuatu itu bersifat dekonstruktif. Dekonstruktif di sini maksudnya pembalikan segala sesuatu yang sudah dibangun dengan kokoh atau dengan kata lain penghancuran segala sesuatu sehingga yang tinggal hanyalah puing-puing reruntuhan yang tak berbentuk dan kacau balau. Dua pernyataan postmodern ini yang mendasari filsafat Timur selanjutnya.

Filsafat Timur memiliki inti ajaran yaitu ‘menjadi’ (‘becoming’) itu adalah ilusi alias tidak ada. Dari pandangan ini ditarik kepada konsep diri yang salah yaitu diri (self) kita itu tidak ada. Jika self itu melebur menjadi satu dengan alam semesta (universe atau makro kosmos) maka self itu menemukan keberadaannya (‘being’). Di sini ditemukan kelemahan bahwa karena segala sesuatu itu relatif, maka filsafat Timur sendiri pun relatif atau tidak ada. Lalu karena becoming itu adalah ilusi, bagaimana mungkin ‘becoming’ itu menjadi sesuatu yang memiliki ‘being’. Pernyataan ini semua saling kontradiktif satu dengan yang lain, tidak ada validitas kebenarannya.

Filsafat Timur kembali memberikan alasan yaitu ‘becoming’ yang adalah ilusi itu melebur menjadi sesuatu dengan alam, baru menjadi ‘being’ yang dapat diilustrasikan oleh penganutnya seperti seseorang yang bercermin dan cermin itu memperlihatkan bayangannya, kemudian bayangan itu berusaha untuk dihapuskan olehnya, sehingga seseorang itu barulah ada (‘being’). Akhirnya filsafat Timur jatuh kepada sikap ekstrim yang menekankan bahwa segala sesuatu tidak perlu dipikirkan, yang penting mengalaminya (experience), bahkan diajarkan untuk mematikan pikiran, keinginan, nafsu, lalu duduk diam (baca: meditasi).

Melalui pemikiran Timur yang seperti itu muncullah suatu gerakan massa (grass-root) yang menghimpun pengikut-pengikutnya termasuk agama. Gerakan tersebut adalah Gerakan Zaman Baru (New Age Movement). Semangat zaman baru ini di-drive oleh pandangan Monism dan Pantheism. Monism mengatakan segala sesuatu itu satu adanya, karena ‘being’ itu oneness sedangkan ‘becoming’ itu many jadi ‘becoming’ itu tidak ada. Pantheism mengatakan bahwa segala sesuatu adalah tuhan atau allah.

Inilah zaman yang sekarang kita hadapi, apakah kita khususnya orang percaya sudah terpengaruh akan pemikiran yang sudah dipaparkan di atas? Orang percaya punya suatu standar pegangan yang tak mungkin diganggu gugat karena Allah yang telah mewahyukannya yaitu Alkitab, Firman Allah, dan Allah juga telah menyatakan diri-Nya kepada manusia melalui Yesus Kristus. Dialah Jalan dan Kebenaran dan Hidup.

Soli Deo Gloria.

Diringkas dari Khotbah di FIRES (Fellowship of Indonesian Reformed Evangelical Students)

Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah

Oktober 1, 2007 at 11:53 pm Tinggalkan komentar


Arsip


Stat

Online

Free counters!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.